Tanah DatarTopik Terkini

Lentera fakta dari Kaki Gunung Marapi: Keteguhan Hati Ujang Maya

Di lereng Gunung Marapi yang megah, tepatnya di nagari tertua Sawah Tangah, Kecamatan Pariangan, lahirlah sebuah keberanian yang konsisten. Adalah M. Rafi, atau yang lebih akrab disapa oleh khalayak Luhak Nan Tuo sebagai Ujang Maya, sosok yang kini menjadi cermin bagi dinamika sosial di Tanah Datar.

​Ujang Maya bukanlah sekadar penggiat media sosial yang mencari riuh rendah popularitas. Ia adalah seorang penjaga nalar publik. Di tengah kepemimpinan Bupati Tanah Datar hari ini, ia hadir sebagai pengawas yang jeli. Ketika banyak orang memilih bungkam atau sekadar memuji, Ujang Maya memilih jalan yang terjal yakni jalan kritik.

Kritik yang dilontarkan Ujang Maya bukanlah sekadar caci maki tanpa isi. Ia bergerak dengan presisi. Setiap unggahannya adalah hasil bedah data dan kompilasi fakta yang tak terbantahkan.

Ia menyajikan angka dan realita lapangan tentang kemunduran yang terjadi di Tanah Datar, fakta-fakta yang ia sajikan perlahan menyibak tabir retorika, memperlihatkan kepada masyarakat bahwa daerah ini butuh perbaikan yang lebih serius daripada sekadar seremoni.

Perjuangan menyuarakan kebenaran tentu bukan tanpa hambatan. Ujang Maya kerap menjadi sasaran empuk bagi pasukan “akun bodong”. Serangan personal, fitnah keji, hingga penggunaan bahasa-bahasa primitif yang jauh dari nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah terus menghujam kolom komentarnya.

Bagi Ujang Maya, serangan akun-akun bodong itu hanyalah hembusan angin yang tak berpola. Tak mampu meruntuhkan pendirian, apalagi memadamkan api semangatnya.

Beliau percaya penuh pada intelektualitas masyarakat Tanah Datar. Baginya, rakyat Luhak Nan Tuo adalah masyarakat yang cerdas, yang memiliki daya saring tajam untuk membedakan mana emas fakta dan mana loyang fitnah.

Semangat Ujang Maya adalah representasi dari jiwa masyarakat Minangkabau yang egaliter—yang berani mengkritik raja jika melanggar adat, yang berani bersuara jika kebenaran dikesampingkan.

​Hingga hari ini, dari Sawah Tangah ia terus mengetik, terus meneliti, dan terus bersuara. Bukan karena benci, tapi karena cinta yang terlalu besar pada tanah kelahirannya. Ia membuktikan bahwa satu suara yang berlandaskan kebenaran lebih bergema daripada seribu suara yang dibayar untuk berbohong.

Ujang Maya adalah pengingat, bahwa di Tanah Datar, kebenaran tidak akan pernah kehilangan suaranya.(Red)

Back to top button