”Ego di Balik Kursi Empuk: Ketika Pemimpin Menjelma Menjadi Korban”

Oleh : Koko Priemajaya
Kemenangan dalam kontestasi politik sering kali membawa efek samping yang memabukkan, rasa percaya diri yang berlebihan hingga berubah menjadi sikap sentimentil. Pemimpin daerah yang terlalu membawa perasaan ke dalam ruang publik cenderung melihat kritik sebagai serangan pribadi. Namun, drama sesungguhnya justru terjadi di barisan belakang—di antara mereka yang merasa menjadi “bidak paling berjasa” dalam papan catur pemenangan.
Hari ini, kita mendengar bisik-bisik di kedai kopi hingga narasi di media sosial tentang oknum-oknum yang merasa dikhianati. Mereka adalah orang-orang yang dahulu berteriak paling lantang saat kampanye, namun kini merasa dibuang setelah kursi empuk diduduki.
Cerita “kiri-kanan” tentang pengabaian ini bukan sekadar curhatan personal, melainkan tanda adanya retaknya konsolidasi internal. Saat seorang pemimpin lebih memilih mengelilingi dirinya dengan barisan “asal bapak senang” ketimbang mereka yang berkeringat di akar rumput, maka benih-benih resistensi mulai tumbuh dari dalam rumahnya sendiri.
Di satu sisi salah satu dosa terbesar dalam kepemimpinan daerah saat ini adalah buruknya kinerja tim komunikasi publik. Alih-alih menjadi jembatan antara pemimpin dan rakyat, mereka sering kali terjebak dalam pencitraan template.
Masyarakat sudah kenyang dengan foto-foto seremoni penyerahan piagam. Di era informasi ini, publik sadar bahwa banyak penghargaan yang bisa “diusahakan” atau rutin diberikan setiap pergantian periode.
Yang paling menyakitkan adalah ketika bawahan atau tim komunikasi menggunakan bahasa yang tidak elok saat merespons keluhan warga di media sosial. Mereka yang mungkin tidak pernah tahu sulitnya meyakinkan satu kepala pemilih di pelosok desa, dengan gampangnya mengeluarkan pernyataan yang defensif dan merendahkan.
Masyarakat tidak butuh narasi tentang betapa hebatnya seorang pemimpin di atas kertas. Mereka hanya peduli pada apa yang mereka rasakan hari ini, apakah jalanan sudah mulus?, apakah layanan kesehatan mudah diakses?, dan apakah urusan birokrasi tidak lagi berbelit?.
Masyarakat punya hak penuh untuk menuntut, karena setiap sen gaji yang diterima sang pemimpin dan fasilitas yang dinikmati para bawahannya berasal dari pajak rakyat, Saat tim komunikasi gagal mengambil hati publik dan justru membangun tembok sentimen negatif, mereka sebenarnya sedang menggali lubang kubur politik bagi tuan nya sendiri.
Pada akhirnya, sebuah kekuasaan yang dibangun di atas fondasi sentimen pribadi akan selalu merasa terancam oleh bayang-bayangnya sendiri, pemimpin yang sibuk meratap seolah merasa menjadi korban fitnah, sebenarnya sedang kehilangan waktu berharga untuk membuktikan janji.
Ketidakpedulian masyarakat terhadap deretan piagam dan piala yang dipamerkan adalah bentuk protes diam yang paling nyata. Bagi warga yang masih berjibaku dengan rusaknya infrastruktur, bingkai emas penghargaan itu hanyalah sampah visual yang tidak punya nilai tukar.
Rakyat memiliki ingatan yang tajam; mereka ingat bagaimana janji-janji manis diucapkan dengan kerendahan hati saat masa kampanye, yang kini terasa sangat kontras dengan arogansi pejabatnya. Jika tim komunikasi dan lingkaran inti sang pemimpin tetap gagal menangkap kegelisahan ini, maka mereka sedang menggiring kepemimpinan tersebut menuju ruang senyap—di mana saat masa jabatan berakhir, yang tersisa bukanlah warisan kebaikan, melainkan hanya sekumpulan cerita tentang mereka yang pernah berkuasa namun gagal menjadi manusia di hadapan rakyatnya. (Red)





