Dua Orang Misterius Menjadi Saksi Kejanggalan Ijazah Oknum Berinisial SK

BOLTIM — Isu dugaan kejanggalan dokumen ijazah yang menyeret nama bakal calon Sangadi Desa Kotabunan Selatan, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) berinisial SK, semakin menarik perhatian masyarakat. Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan fakta baru yang mencurigakan terkait proses perolehan dokumen pendidikan milik SK, (19/10/2026).
Menurut keterangan warga tersebut, pada tahun 2025 lalu, terjadi perbincangan di kediaman SK yang melibatkan dirinya bersama satu orang warga. Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk membahas rencana pencalonan SK sebagai Sangadi Desa Kotabunan Selatan.
“Pada saat itu, jujur saja, SK mengaku belum memiliki ijazah sama sekali. Kami membicarakan syarat administrasi yang harus dipenuhi, termasuk soal ijazah yang belum ada,” ungkap warga tersebut.
Namun yang terasa sangat aneh, ketika memasuki tahun 2026 dan proses pendaftaran Pemilihan Sangadi dibuka, tiba-tiba SK dikabarkan telah melengkapi seluruh dokumen ijazahnya, mulai dari Paket A, Paket B, hingga Paket C. Semua diperoleh dalam waktu yang relatif singkat setelah sebelumnya diketahui belum memiliki dokumen apa pun.
Warga mempertanyakan logika perolehan ijazah yang begitu cepat dan lengkap dalam waktu kurang dari satu tahun. Apalagi jika dikaitkan dengan informasi sebelumnya bahwa ijazah Paket B yang digunakan tercatat terbit pada tahun 2021, padahal ujian baru dikatakan dilaksanakan pada tahun 2025.
“Kami tidak menuduh apa-apa. Yang kami minta adalah kejelasan. Bagaimana seseorang yang tahun lalu belum punya ijazah, tahun ini tiba-tiba lengkap semua tingkatannya Proses ini perlu diperiksa oleh panitia pelaksana secara terbuka dan transparan,” tegas warga.
Masyarakat berharap Panitia Pelaksana Pemilihan Sangadi Kotabunan Selatan tidak mengabaikan informasi yang berkembang di tengah warga. Jika nantinya ditemukan kejanggalan.
“Pemimpin desa harus lahir dari proses yang bersih. Jika syarat dasar seperti ijazah saja belum jelas proses perolehannya, bagaimana masyarakat bisa percaya pada pemimpin yang akan dipilih nanti.” tambahnya.
(Andry)
Referensi Terkait
Contoh peristiwa/kegiatan sejenis; bukan bukti kejadian dalam artikel.





