CiamisHukum & KriminalJawa BaratTopik Terkini

Kasus Mutilasi Ciamis: Penjualan Kambing Hingga Depresi, Apa Motifnya?

Ciamis, Jelajahindo.com – Kasus tragis mutilasi yang terjadi di Ciamis menjadi perbincangan hangat dalam berbagai lapisan masyarakat. Video tersebar luas di media sosial, menunjukkan seorang pelaku yang diduga membawa potongan tubuh dan terlihat berlumuran darah. Ironisnya, pelaku yang sehari-hari berprofesi sebagai penjual kambing, bahkan dikabarkan sempat menawarkan potongan tubuh istrinya kepada tetangga.

Peristiwa mengerikan ini menyebabkan kepanikan di antara warga yang merekam adegan itu. Mereka khawatir mendekati pelaku yang masih menggenggam pisau dan tampak tidak stabil secara mental. Bahkan, Kepala Desa Cisontrol mengalami luka pada tangan akibat sabetan pisau pelaku saat hendak ditangkap.

Usai peristiwa itu, pelaku Kasus Mutilasi Ciamis akhirnya berhasil ditangkap oleh aparat desa, polisi, TNI, dan warga setempat. Video penangkapan pelaku, yang menunjukkan pelaku digotong dengan tangan dan kaki terikat, juga tersebar luas di media sosial.

Setelah ditangkap, pelaku kemudian dibawa oleh polisi ke Kepolisian Sektor Rancah. Di dalam sel, pelaku terlihat kerap memegang kepalanya dan diduga sedang menjalani pengobatan rawat jalan karena masalah depresi.

Eha, seorang saksi mata, menyampaikan bahwa pelaku selama ini tidak pernah menciptakan masalah di lingkungan sekitar. Namun, kondisinya belakangan ini dikabarkan sedang menjalani perawatan rawat jalan karena depresi yang dideritanya. Usaha jual kambingnya bangkrut, yang mungkin menjadi salah satu pemicu dari perbuatan tragis ini.

Kasus ini menjadi sorotan masyarakat setempat, terutama karena peristiwa mutilasi ini merupakan yang pertama kali terjadi di desa mereka. Kepala Polres Ciamis, Ajun Komisaris Besar Akmal, menyatakan bahwa motif di balik perbuatan mengerikan ini masih dalam penyelidikan. Polisi juga akan memeriksa kondisi kejiwaan pelaku untuk mengetahui lebih lanjut latar belakang peristiwa ini.

Kasus mutilasi ini menyentuh persoalan yang lebih luas tentang kekerasan terhadap perempuan. Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan di Jawa Barat yang terus meningkat, dengan Kota Bandung menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi.

Penanganan masalah kekerasan terhadap perempuan memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif, termasuk perlindungan yang lebih baik bagi korban dan upaya pencegahan yang lebih intensif untuk mengatasi akar persoalannya. Diperlukan langkah-langkah konkrit untuk mengatasi ketimpangan jender dan masalah ekonomi yang seringkali menjadi pemicu kekerasan yang terus berulang. (*)

Penulis : Redaksi
Back to top button