Sejak Zaman Dahulu Milik Rakyat, Kini Pemerintah Dinilai Tak Lagi Berpihak Kepada Rakyat

BOLTIM Sulawesi Utara – Perasaan kecewa dan duka mendalam menyelimuti warga Dusun Lima Panang, Desa Kotabunan. Kawasan Panang dan Benteng tanah yang sejak zaman nenek moyang sudah menjadi tempat hidup, dan sumber penghidupan rakyat, kini terasa semakin terasing bagi pemilik aslinya.
Aba Rusmin Mamonto, merasa sedih sekaligus bertanya‑tanya, mengapa Pemerintah dan para Wakil Rakyat yang dipilih sendiri oleh rakyat, kini dinilai tak lagi berpihak kepada kepentingan rakyat kecil.
“Sejak zaman dahulu, sebelum ada aturan apa pun, sebelum ada nama perusahaan apa pun, tanah ini sudah milik kami. Di sinilah kakek‑nenek kami mengais rezeki, di sinilah kami lahir dan tumbuh besar, Namun hari ini, justru kami yang dianggap asing di tanah sendiri. Di mana pun kami meminta keadilan, rasanya pintu sudah tertutup lebih dulu,” ucap Aba Rusmin Mamonto, (16/08/2026).
Ia juga menuturkan harapan mereka dulu besar, bahwa Pemerintah hadir untuk melindungi yang lemah, dan DPRD adalah tempat suara rakyat bersuara, Namun kenyataannya yang terasa kini berbeda, pengusiran, serta ketidakpastian nasib penambang tradisional seolah diabaikan, lambat ditangani, atau justru mengikuti kehendak pihak lain yang lebih kuat.
“Kami tidak menuntut kemewahan. Kami hanya minta satu hal jangan ambil semuanya lalu tinggalkan kami tanpa apa‑apa. Panang ini bukan sekadar tanah tambang. Ini rumah kami, ini masa depan anak cucu kami,” harap Rusmin.
Rusmin juga menambahkan, “Kalau pemerintah dan wakil rakyat tak lagi berpihak kepada kami yang kecil ini, kepada siapa lagi kami harus berpaling”, tutupnya.
Hingga kini warga tetap berharap keadilan benar‑benar ditegakkan. Mereka tetap memegang prinsip, Panang adalah darah dan daging rakyat, tanah ini tetap milik rakyat yang menjaganya sejak dahulu kala.
(Andry)




