Topik Terkini

Kedepankan Cara Persuasif dan jalan Mediasi, Wali Nagari Kumango Jawab Tudingan Miring Secara Terbuka

TANAH DATAR – Sebuah polemik mencuat di tengah ketenangan Nagari Kumango, Kecamatan Sungai Tarab. Wali Nagari Kumango, Iis Zamora Putra, akhirnya angkat bicara demi meluruskan simpang siur informasi terkait insiden perkelahian warga di Jorong Kumango Utara yang terjadi pada Rabu (21/1/2026) lalu.
​Tudingan “pasif” dan “lemah” yang dialamatkan kepadanya oleh oknum tertentu dibantah keras dengan kronologi yang jelas dan saksi yang kuat.
​
​Berdasarkan fakta di lapangan, peristiwa pemukulan tersebut terjadi sekitar pukul 16.30 WIB. Namun, Iis Zamora baru mendapatkan laporan dari anak salah satu pelaku sesaat setelah kejadian.

​”Saya baru sampai di lokasi sekitar pukul 17.30 WIB, tepat satu jam setelah kontak fisik itu berakhir. Jadi, sangat tidak masuk akal jika saya dituduh membiarkan atau pasif saat pemukulan terjadi, karena saat itu saya memang belum berada di tempat,” tegas Iis Zamora.

​Ia menambahkan bahwa saat tiba di lokasi, suasana memang masih memanas, namun sudah tidak ada kontak fisik. “Yang saya saksikan hanyalah cakak muncuang (adu mulut) dan aksi saling hujat dengan jarak antar pelaku sekitar 15-20 meter,” tambahnya.
​
​Terkait tudingan bahwa pihak nagari tidak memfasilitasi pengobatan korban, Iis Zamora menjelaskan bahwa situasi saat itu sangat situasional. Sebagai pemimpin, ia telah berupaya menenangkan suasana dan menyarankan jalan damai.

​Namun, pihak korban memilih untuk segera melaporkan kejadian tersebut ke Polsek. Saat itu juga, barulah sesampainya di polsek korban langsung didampingi oleh Babin Kumango menuju Puskesmas untuk mendapatkan perawatan medis.

​”Saudara Taufik (pihak pelaku) sebenarnya sangat menyesali perbuatannya. Beliau ingin berdamai, bersedia mengganti biaya pengobatan, bahkan siap mengganti kerugian pendapatan korban yang tidak bisa berjualan hingga korban sembuh dan beraktifitas seperti biasa.

Sebagai Wali Nagari, tentu tugas saya adalah menjadi penengah (mediator) agar nagari tetap kondusif,” jelas Iis.

Senada dengan itu ketua BPRN Ahmad Yani turut menyampaikan “Waktu pemukulan dan upaya perdamaian di tempat kejadian ambo dak ado disitu doo, tapi ambo menyarankan dan mendorong wali nagari untuk berupaya mendamaikan antara pelaku pemukulan dengan korban, dengan prinsip perdamaian yang berkeadilan, dan itu lah yang diupayakan dek wali nagari tapi korban sampai saat kini belum namuah berdamai” pungkasnya.
​
​Keseriusan Pemerintah Nagari Kumango dalam menyelesaikan masalah ini tidak main-main. Terhitung sudah 8 kali upaya mediasi dilakukan dengan melibatkan unsur BPRN dan perangkat nagari lainnya. Hal ini mematahkan anggapan bahwa kepemimpinan Iis Zamora “lemah” dalam merespons konflik warga.

​iis zamora juga sangat menyayangkan berita yang di terbitkan sebelumnya yang sangat menyudutkan pihak nagari tanpa melihat fakta secara utuh, padahal keterangan yang jelas sudah diberikan baik kepada yang membuat berita.

Upaya mediasi yang saya lakukan berkali kali demi kedamaian warga saya semata-mata bukan karena membela pelaku.

Saya juga tidak membenarkan perbuatan pelaku bahkan saya mengecam perbuatan tersebut, tapi karena pelaku menyadari kesalahan dan berani bertanggung jawab maka saya tetap mencoba memediasi.

Karena tentu seorang wali nagari diharapkan untuk bisa melakukan perdamaian/ RJ (restorative justice di tingkat nagari).

Sebagai seorang manusia saya menyadari jauh dari kesempurnaan, persoalan ini menjadi moment evaluasi kedepan bagi saya untuk lebih baik lagi.

Karena alangkah baiknya mendamaikan dengan berkeadilan secara musyawarah tanpa menimbulkan dendam dikemudian hari, tanpa mengesampingkan perbuatan yang telah dilakukan.

Sampai saat ini korban belum mau berdamai di nagari, dan akan dilnjutkan ke pengadilan. Pungkasnya menutup pembicaraan. (Red)

Back to top button