Orang Baru di Lingkup Oligarki : Penumpang musiman dengan segala kebisingannya.

Foto : Â Himpunan parlemen Tanah Datar 2004 -2009
Oleh : Ir. ASRUL NURHASAN ( Politikus senior dan Pemerhati sosial )
Tulisan ini di rangkai seizin kawan – kawan seperjuangan di parlemen Tanah Datar periode 2004 – 2009, yang sedikit “terganggu” setelah membaca sebuah tulisan dari seorang anak muda yang bahkan kiprahnya belum tentu menjadi manfaat bagi banyak orang di ranah tercinta ini.
Kita jangan sampai keliru memandang sebuah panggung —politik bukanlah pasar loak di mana martabat manusia ditakar berdasarkan angka paling laris minggu ini.
Memang benar, angka 200 berbanding 2.000 adalah fakta yang tak terbantahkan. Namun, fakta tanpa kedalaman analisis hanyalah menjadi alat pukul yang tumpul. Jika demokrasi direduksi sebatas kalkulator angka, maka kita sedang mengerdilkan arena gagasan, rekam jejak, dan konsistensi nilai menjadi statistik tanpa etika.
Kita sedang merayakan “siapa yang paling ramai”, bukan “apa yang paling esensial”.
Niccolò Machiavelli pernah berpesan bahwa penguasa yang gagal membaca zaman akan ditinggalkan oleh garis nasibnya. Itu benar. Namun, ia juga mengingatkan sebuah realitas pahit: kekuasaan sering kali berpihak pada persepsi, bukan kualitas. Di era modern, persepsi bisa dipahat oleh modal, digerakkan oleh mesin, dan dipicu oleh momentum. Oleh karena itu, selisih suara yang lebar bukanlah bukti otomatis atas selisih kapasitas.
Tulisan itu menyebut kekalahan berulang sebagai “hilangnya kepercayaan”. Sungguh kalimat yang naif sekali yang tidak sepantasnya keluar dari seorang yang sudah bergelar doktor.
​Abraham Lincoln menelan pahitnya kekalahan berkali-kali sebelum akhirnya menyelamatkan bangsanya dari perpecahan.
​Winston Churchill bahkan ditepikan oleh rakyatnya sendiri tepat setelah ia mengantarkan Inggris memenangkan perang.
​Jika logika “sekali kalah berarti selesai” kita terapkan, maka sejarah dunia akan kehilangan narasi-narasi besar yang lahir dari ketangguhan.
Mengenai istilah post power syndrome yang Anda sematkan, mari kita lebih berhati-hati. Politik bukanlah ruang diagnosis medis. Mengkritik tanpa memegang jabatan bukanlah tanda gangguan psikologis, itu adalah pengejawantahan dari apa yang disebut Hannah Arendt sebagai hakikat manusia di ruang publik—tempat untuk bertindak dan berbicara. Hak untuk bersuara tidak luruh bersamaan dengan berakhirnya masa jabatan.
​Mungkin ada kritik yang lahir dari luka, namun tak sedikit yang lahir dari tanggung jawab moral. Karl Popper menegaskan bahwa masyarakat terbuka hanya akan tetap sehat jika kekuasaan terus diuji. Jika setiap suara dari “orang lama” dianggap sebagai dendam personal, maka yang sedang kita bangun bukanlah demokrasi yang sehat, melainkan zona nyaman bagi penguasa.
Sejarah memang tidak berutang suara kepada siapa pun. Namun, sejarah juga tidak pernah mengunci pintu bagi mereka yang bersedia mengevaluasi diri. Menertawakan yang kalah adalah perkara mudah, namun berevolusi setelah jatuh adalah pencapaian yang langka.
​Politik tidak hanya peduli pada siapa yang paling riuh hari ini. Ia menanti siapa yang konsisten, siapa yang menawarkan solusi, dan siapa yang berani memperbaiki diri.
​pada akhirnya yang  membentuk identitas seseorang tokoh adalah cara ia berkomunikasi dengan publik, apakah akan meninggalkan warisan nama besar, atau hanya sebagai pelengkap cerita. (Red)





