Topik Terkini

Fenomena Akun Bodong : Bukti Runtuhnya Nyali dan terkikisnya intelektualitas.

Oleh : Koko Priemajaya

Dahulu, untuk membungkam kebenaran, seseorang harus menghancurkan naskahnya atau menyakiti penulisnya. Di era algoritma, metodenya berevolusi, jika ada data yang tidak mampu untuk dibantah, maka hancurkan reputasi orang yang membawanya. Inilah fenomena klasik “Killing the Messenger” dalam balutan teknologi.

Fenomena ini sering terjadi ketika seorang jurnalis, warga, ahli, atau saksi lapangan memaparkan fakta pahit ke ruang publik. Bukannya dihadapi dengan argumen tandingan yang sehat, mereka justru diserbu oleh pasukan akun bodong. Tanpa wajah dan tanpa nama, bermodal foto profil curian akun-akun ini bekerja seperti rayap, mereka tidak menyerang isi pesan, melainkan integritas sang pembawa pesan.

Fitnah ditebar, mulai dari tuduhan skandal pribadi hingga narasi pengkhianatan, semuanya dirancang untuk menciptakan kebisingan agar publik kehilangan fokus pada fakta awal.

Namun, ada sebuah ironi yang indah dalam psikologi massa. Ketika akun-akun bodong ini melakukan perlawanan yang primitif dan brutal, mereka tanpa sadar sedang memamerkan rasa takutnya sendiri.

Setiap fitnah yang mereka ketik dengan jemari gemetar itu justru menjadi tinta yang mempertebal garis kebenaran dari fakta yang ada. Mereka ingin mengubur cahaya, namun mereka justru menjadi bahan bakar yang membuat cahaya itu berpijar lebih terang.

Perlawanan primitif yang hanya mengandalkan makian dan pembunuhan karakter, justru menjadi sinyal validasi. Publik yang awalnya ragu mulai menyadari: “Jika mereka melawan fakta dengan fitnahan, maka apa yang dikatakan pastilah benar.”

Jika anda bertamu kerumah saya, maka anda akan melihat sebuah rak buku di samping lemari TV, diantara tumpukan tersebut terdapat sebuah buku berjudul ” “Demokrasi di Era Post Truth” (2021) yang ditulis oleh Bagus G. Ratmono & B.M, dan diterbitkan oleh Perpustakaan Populer Gramedia.

Di buku tersebut begitu jelas menyatakan bahwa semakin kuat upaya untuk menyembunyikan atau menyensor informasi, semakin luas informasi tersebut tersebar, atau dalam teori komunikasi disebut Streisand Effect.

Pada akhirnya, kita hanya bisa memandang mereka dengan rasa iba yang mendalam. Sementara sang pembawa fakta tetap tegak dengan integritasnya, akun-akun bodong ini akan hilang ditelan sejarah—anonim, terlupakan, dan hampa. Mereka adalah tumbal dari sebuah ego besar yang ketakutan, bertarung di garis depan untuk sebuah perang yang tidak pernah bisa mereka menangkan.(Red)

Back to top button