Makin Panas! Excavator Hilang, Kernet Lepas, Publik Soroti Kinerja BKSDA
Kuantan Singingi – Misteri raibnya excavator merek Sumitomo berwarna kuning yang sebelumnya diamankan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau di kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang–Baling, Desa Pangkalan Indarung, Kecamatan Singingi, makin menimbulkan tanda tanya besar.
Setelah publik digegerkan dengan hilangnya alat berat yang disebut-sebut milik seorang pria berinisial Iyus, kini mencuat kabar baru: kernet yang sempat ikut diamankan bersama excavator tersebut juga diduga telah dilepas.
Hingga Senin (9/9), belum ada keterangan resmi baik dari BKSDA Riau maupun Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum LHK) terkait isu tersebut.
Status Iyus dan Pemilik Lahan Belum Jelas
Mandeknya perkembangan kasus ini menuai sorotan publik. Status Iyus yang diduga pemilik excavator sekaligus pihak yang bertanggung jawab atas raibnya barang bukti hingga kini belum jelas. Begitu pula dugaan keterlibatan pemilik lahan tempat aktivitas ilegal itu berlangsung, masih misterius.
Ketiadaan update resmi membuat masyarakat mempertanyakan keseriusan aparat dalam menangani kasus yang dianggap mencederai upaya perlindungan kawasan konservasi.
Sorotan Publik dan Dugaan Kongkalikong
Penggunaan alat berat untuk merambah hutan di kawasan konservasi bukan perkara sepele. Lenyapnya excavator yang sempat diamankan, ditambah kabar dilepasnya kernet, dinilai semakin mempertegas adanya dugaan permainan di balik kasus ini.
“Kalau aparat tidak segera menjelaskan perkembangan penyelidikan, wajar kalau masyarakat menduga ada sesuatu yang ditutup-tutupi,” ujar seorang warga Singingi yang enggan disebutkan namanya.
Aktivis lingkungan sekaligus pegiat media sosial, Ahmad Fathoni, juga ikut bersuara lantang.
“Kalau seperti ini kisahnya, patut diduga ada kongkalikong atau damai di tempat yang dilakukan oleh oknum BKSDA,” tegas Ahmad Fathoni.
Dalam kesempatan lain, Fathoni kembali menyoroti sikap aparat yang dinilainya tertutup.
“Kalau seperti ini, patut kita menduga tidak transparansinya pihak BKSDA dan Gakkum dalam mengusut kasus ini. Ada apa?” ungkapnya.
Ia bahkan menyebut, informasi yang diterimanya menunjukkan bahwa Iyus masih berkeliaran meski disebut-sebut sebagai pemilik excavator.
“Kita juga menerima informasi Iyus masih berkeliaran di sana sini. Tidak hanya itu, pihak Gakkum mesti usut mulai dari calo hingga pemilik lahan. Calonya dikabarkan Barus dan Anto, warga Pangkalan, sedangkan pemiliknya orang dari Sumatera Utara,” tambah Fathoni.
Tuntutan Langkah Tegas
Kini, masyarakat menanti langkah nyata dari BKSDA Riau dan Gakkum LHK. Penanganan tegas dinilai penting, bukan hanya untuk mengembalikan kepercayaan publik, tetapi juga demi menyelamatkan kawasan konservasi Bukit Rimbang–Baling yang menjadi habitat satwa langka seperti harimau sumatera, tapir, dan beruang madu.(Tim)





